Apa Arti Hidup Loe?

Waktu selesai nonton Kepompong di SCTV kemarin, gue mendadak jadi terkena syndrome gila mendadak. Kan ceritanya si Indra punya sepupu, namanya Nadine. Nadine nih meninggal gara-gara menderita leukimia. Tapi selama hidup, Nadine ngajarin Indra kalo dia harus menghargai dirinya sendiri, trus mensyukuri anugerah yang diberikan Tuhan buat dia, contohnya sahabat-sahabatnya.

Udah ah. Gue enggak mau cerita panjang-panjang soal itu film. Gue enggak mau promosiin itu film, lagian gue juga enggak dibayar kok (maunya! Hehehe…). Yang mau gue ceritain, apa arti hidup loe?

Pas kelas VIII, gue kena syndrome matiphobia (OK, istilah ‘matiphobia’ cuma karangan gue aja. Jangan sampai loe ngajarin anak-cucu loe tentang istilah matiphobia ini), yaitu ketakutan berlebihan tehadap kematian.

Ga tahu kenapa, akhir-akhir itu gue jadi enggak berani tidur sendiri di kamar gue. Akhirnya gue ngungsi ke kandangnya Blacky, trus tidur ditemani Blacky. Akhir-akhir itu gue kepikiran melulu soal kematian. Gue mikir, seandainya gue mati, apa yang akan terjadi dengan gue? Apakah gue akan lupa ingatan? Kalo gitu semua yang gue alami di dunia ini sia-sia, dong. Trus, apa yang akan gue lakukan setelah gue mati? Menghadapi penghakiman terakhir dari Tuhan (menurut kepercayaan agama gue)? Setelah dihakimi, gue ngapain? Gue benar-benar bingung.

Saking bingungnya, gue sampai konsultasi sama kakak pembina rohani gue yang waktu itu lagi di Surabaya. Gue nanya, “Kak, kalo kita mati kita ngapain?”. Benar-benar pertanyaan yang bodoh tapi penting banget buat gue. Kakak pembina gue lalu jawab, “Kematian itu adalah kesukaan bagi orang Kristen. Asalkan kita percaya sama Tuhan, kita pasti diselamatkan dan enggak perlu takut lagi akan kematian.” Gitu kata kakak pembina gue, kalo gue enggak salah ingat.

Jawaban dari kakak pembina gue bukannya bikin gue ngerti, malah bikin gue tambah bingung. Gue makin stres guling-gulingan di atas kasur.

Sampai sekarang gue belum nemuin jawaban atas pertanyaan gue; Apa yang akan kita lakukan setelah kita mati? Apakah kita akan amnesia gitu sehingga kita lupa akan segala hal yang sudah alami di dunia ini?

Gue memang belum nemuin jawaban atas pertanyaan gue itu, tapi pas gue dengar renungan natal di gereja gue tadi pagi (Minggu, 14/12/2008) (tumben-tumbenan lho tadi di gereja gue bisa duduk tenang dan dengerin khotbah. Biasanya gue jejeritan melulu di tempat duduk gue kayak orang kesurupan), gue jadi ngerenungin satu hal,

Kita enggak bakal tahu apa yang akan terjadi pada kita setelah kita mati nanti. Yang tahu cuma Tuhan doang. Tapi selama kita hidup, kita harus ‘berbuah’ sebanyak mungkin untuk orang lain. Berbuah yang gue maksud tuh menghasilkan perbuatan-perbuatan seperti; Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. ‘Buah-buah’ yang kita hasilkan tuh akan menjadi kenangan bagi orang-orang yang kita tinggalin setelah kita mati nanti, dan menjadi saksi akan kehidupan kita. Apa yang kita perbuat selama hidup kita. Yah, intinya mirip-mirip cerita Pay It Forward gitu deh. Pernah baca kan bukunya? Gue sih belum pernah, cuma dengar doang, hehehe… Trus kita juga harus mensyukuri apa yang telah kita dapatkan selama hidup kita. Keluarga, sahabat, prestasi, kesehatan, bahkan masalah-masalah yang menimpa kita, harus kita syukuri juga dong.

Jadi… ya gitu. Daripada mikirin tentang kematian-hal yang kita enggak tahu kapan akan kita alami-mending kita mikirin tentang hal yang harus kita lakukan selama hidup kita.

Gue memang belum sembuh dari penyakit matiphobia gue, tapi pelan-pelan gue mulai belajar untuk enggak takut lagi pada kematian.

Segini dulu deh tulisan gue. Gue takut gue ngomong banyak-banyak eh, tahunya salah, kan gue jadi nyebar ajaran sesat, hehehe…

Komentar

ONO mengatakan…
pikiran pres mungkin hampir sm dengn tulisanku udh bc http://onorudy.blog.friendster.com/2008/10/perbedaan/

met merenung y?gambate

Postingan Populer