THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 13 Agustus 2016

Do You Remember Me?



Masihkah kamu ingat kali pertama kamu jatuh cinta?

Dia adalah salah seorang teman sekelasku ketika SMA kelas I. Ketika baru pertama kali pindah ke Jawa setelah bertahun-tahun tinggal di Jayapura. Ketika bahkan aku nggak ngerti banyak yang orang perbincangkan karena permasalahan bahasa. Ketika aku benar-benar takut untuk berbicara karena beberapa kali ditertawakan akibat logatku yang kental menandakan aku berasal dari luar pulau Jawa.

Kapan pertama kali aku memutuskan untuk menyukainya? Mungkin saat aku yang kaku lagi gelagapan megang sapu waktu pertama kali tugas piket di kelas, lalu membantuku ngeluarin sampah dari dalam laci mejanya dengan senyum lucunya. Atau, aku yang kagum karena kemampuan akademiknya yang di atas rata-rata. Atau, aku hanya tiba-tiba menyukainya dan nggak bisa berhenti mengamatinya lebih dari satu tahun. Dan juga, nggak bisa berhenti tersiksa dengan diriku yang bahkan nggak punya kepercayaan diri untuk mengobrol dengannya. Benar-benar siapalah diriku, pikirku. Dan satu tahun itu berakhir dengan aku yang sangat jarang mengobrol dengannya.

Beberapa waktu yang lalu, nggak sengaja aku bertemu lagi dengannya ketika aku lagi ngider-ngider sendirian di mall dalam rangka nyari kado untuk seorang sahabat. Aku lagi jalan, sibuk celingak-celinguk nyari inspirasi kado.... dan nyari Pokemon.

Dia tiba-tiba memanggilku . Meneriakkan namaku dengan kencang, dengan suaranya yang riang, dengan senyum lebar. Aku mengenalinya kali pertama aku melihat wajahnya. Tapi nggak tahu kenapa malah melupakan namanya. Segala kenangan tentangnya muncul, kecuali.... namanya.

Dia sengaja berdiri di tempatnya tanpa ada tanda-tanda akan segera beranjak, jadi biar sopan aku samperin. Kami ngobrol di pinggir jalan, di depan sebuah toko baju, sementara aku sadar ia sednag ditunggu seseorang yang mengamatinya dari jauh.

“Precill, kamu tinggal di Surabaya ya sekarang?”

Aku mengangguk.

“Kamu kerja di BCA ya sekarang?” dheg. Hatiku tergelitik. Dia tahu. Aku agak terkejut dia nggak nanya aku kuliah dimana sekarang, tapi langsung tahu dimana tempatku bekerja. Iya kalo aku anak keren yang orang-orang patut tahu tentang aku dan ngomongin aku, aku nggak akan terkejut. Dan seorang dia, tahu. Mau nggak mau aku ngerasa.... senang?

Beberapa menit nggak sengaja malam itu, aku bahkan sadar kalau mungkin itu adalah obrolan kami yang terpanjang. Sama sekali aku nggak ngerasa canggung bercerita, bertanya, dan aku sadar... aku berubah.

Ternyata, sampai kini ia masih menjadi bagian dalam 'manual book of love'-nya Precill. Bukan karena aku masih menyukainya. Bukan. Aku hanya teringat akan diriku yang dulu, dan ia masih membuatku belajar.


Dia ingat aku. Dia tahu aku. Aku nggak pernah diacuhkan, tapi aku yang membuat diriku sendiri merasa diacuhkan. Dan, bukannya itu penyakit khas cewek-cewek ABG? Lucu aku baru menyadarinya ketika aku sudah bukan lagi ABG karena sekarang usiaku sudah menginjak kepala dua.

Jika dulu kamu berani, apa yang akan terjadi? You've got nothing if you do nothing. Dan mungkin suatu kesempatan, momen, atau seseorang, hanya akan menjadi kenangan tanpa kategori sukses atau gagal ketika kamu menolak melakukan sesuatu.

Seperti diriku, yang akhirnya menulis tulisan ini.


Surabaya, 3 Agustus 2016

M O N E Y



Seminggu sekali aku punya kebiasaan ngerapihin dompet, ngebuang struk-struk ATM atau struk jajan di Indomart, lalu ngeluarin uang-uanng koin trus dimasukkin ke celenngan, dan nata duit kertas * kalo punya duit * dari denom terbesar sampai terkecil, sisinya sama semua.

Ada macam-macam benda di dompetku, walau kadang duitnya cuma selembar-dua lembar padahal, hahaha... Tiket bioskop, kartu-kartu ATM, kartu identitas, member RS, gelang kertas waktu ke museum angkut pertama kali, stok pasfoto, etc etc.

Dan barusan aku membuka bagian yang jarang banget aku buka dan nemu selembar duit denom Rp 100.000 yang terlipat tidak simetris, diantara tiket kereta api pertamaku. Awalnya aku bingung kenapa nggak aku taruh di tempat biasa? Jarang lho aku punya uang pecahan Rp 100.000 di dompet. Kalo pun dapat angpao denom segitu biasanya aku masukkan ke mesin CDM ( cash deposit machine ) trus ditarik lagi ke denom Rp 50.000 biar nggak di-BT-in ibu-ibu warung makan gara-gara ngeribetin nyariin uang kembalian.

Aku teringat malam itu. Nggak lama setelah tahun baru, malam terakhir aku di Jayapura sebelum kembali ke Jakarta esok paginya karena libur akhir tahun akans egera berakhir. Di kamar itu, terbaring sendirian di tempat tidur, seorang laki-laki yanng memanggilku dengan suara serak.

“Presy, besok kau kembali ke Jakarta?” tanyanya setelah aku berdiri di samping tempat tidur.

“Iya,” jawabku, beridri canggung ketika beliau memegang tanganku.

“Sekolah baik-baik, ya. Habis dapat gelar S1, kau harus ambil S2,” aku hanya tersenyum mris mendengar permintaannya, dalam hati mikir bisa dapat gelar S1 saja belum pasti. “Habis lulus kuliah kau kerja di BCA?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk. Menatap matanya yang nggak lagi jernih, ada noda-noda di bola mata itu. Dan tangan keriput itu tetap menggenggam tanganku, tersenyum.

“Jangan lupa berdoa. Jangan sampai lupa sama Tuhan,” lagi, aku mengangguk canggung.

Aku masih ingat gerakan tangannya yang pelan, dengan terbaring telentang, merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyerahkannya padaku.

“Saya tidak bisa banyak kasih kau apa-apa. Saya tidak bisa bahkan bangun dari tempat tidur. Tapi ini yang saya punya untuk Presy ya,”

Beliau lalu memanggil Grace, adik bungsuku, sementara aku keluar dari ruangan itu menemui papa yang bangkit dari kursi plastik, siap mengantarku pulang.

Sesampai di kamar, aku membuka amplop tadi dan menemukan selembar uang pecahan Rp 100.000, yang dilipat nggak simetris. Menatap pemberian beliau, dan hatiku tergelitik haru.

Beberapa orang nggak punya kesempatan, atau cara yang tepat untuk mengekspresikan rasa sayang mereka pada seseorang. Bagi mereka, memberi uang membantu mereka untuk merasa telah menyayangi seseorang. Karena itu yang biasa diberikan pada anak kecil. Aku, bagi beliau, masih anak kecil yang bertambah tinggi saja.

Memberi di engah keterbatasannya, membuatku memandang selembar persegi panjang berwarna merah itu bukan hanya sekedar uang.


Tiba-tiba aku teringat seorang pria paruh baya yang duduk di sebelahku ketika di gereja. Ia mengeluarkan 'dompet' yang terbuat dari kertas dari saku polonya yang terlihat lusuh, mengambil beberapa lembar uang dari sana dan memasukkannya ke dalam kantong persembahan.

Mungkin kadang uang bukanlah sekedar uang. Tapi ada perasaan yang tulus di sana.


Surabaya, 19 April 2015

How Can I Love You Like This?


Kadang aku lupa. Sebenarnya tujuan akhir kita apa? Menemukan orang yang mencintai kita apa adanya, dan mencintai seseorang apa danya. Nggak ada yang lebih indah dari perasaan disayangi yang tulus. Nggak usah janji-janji manis tentang masa depan yang serba wah, cita-cita yang tinggi, dan prinsip-prinsip idealis. Cukup hidup bahagia.

Aku lupa. Aku nggak akan pernah merasa cukup, karena aku manusia. Nggak ada kata puas. Selalu ingin lebih. Tapi, bukankah kita lelah karena terus berlari tanpa henti? Berlari mengejar sesuatu yang akan terus berubah... yaitu standart bahagia. Bukankah dengan perasaan cukup kita akan merasa damai? Bukankah karena berlari kita bisa terjatuh dan terluka semakin perih?

Bukan berarti aku takut terjatuh. Karena mencintaimu pun, ada perih. Tapi sebelum hati ini berkata lelah, biarkan aku bersandar dan berhenti. Menjadikanmu rumah untukku. Tempat untuk selalu pulang dan berbagi kenangan bersama.

Lucu, gimana hal ini selalu terulang. Sesuatu selalu menjadi berlipat-lipat berharga, ketika ia jauh. Dan waktu yang menyadarkanku kalau kamu telah menjadi rumah buatku, sebelum aku menyadarinya. Terimakasih. Mengijinkanku mengenalmu. Membuka topeng, menunjukkan hatimu.

Tiap hal-hal sederhana tentangmu, membuatku semakin merindukanmu. Tentangmu, tentang kopimu, takaran air dan gelas yang biasa kamu pakai menyeduh kopi instant favoritmu, membuatku tiba-tiba merindukan wangi kopi seduhanmu yang dengan wajah datar kau sodorkan padaku ketika aku dengan cengiran lebar iseng meminta kopimu.

Mungkin, nggak ada yang percaya tentang betapa seringnya aku tersenyum, dan tertawa, karena kamu adalah sosok yang berbeda. Kamu lucu. Kamu romantis. Kamu gombal. Dan kadang seperti anak-anak. Seperti sahabat.

Gimana bisa kamu masak bubur.... dengan cabai rawit merah yang digunting ( niatnya ) berbentuk hati tapi setelah dimasak jadi nggak ngaruh? Aku diam-diam selalu menyimpan kenangan itu. Atau wajahmu yang memandangku lekat-lekat, dan berkata kalau kamu sangat senang melihatku melahap masakanmu. Hei, gimana mungkin aku nggak makan dengan bahagia, sesuatu yang kamu masak dengan perasaanmu?

Sadarkah betapa aku selalu memelukmu dengan erat? Aku suka menghirup aromamu dalam-dalam. Dan aku tidak ingin melepaskanmu. Karena bagiku, kamu adalah tempat teraman untukku.

Terimakasih terlah mengijinkanku belajar. Dan membiarkanku kembali pulang. Karena kamu benar. Setelah ini, aku nggak mau pergi kemana-mana lagi.

Karena aku mencintaimu. Dan itu cukup.


Surabaya, 11 Agustus 2016

Minggu, 07 Agustus 2016

Cerita Nasi Kuning


Tiap kali ada teman SMA yang tahu aku lagi – atau akan – ke Malang, komentar mereka nggak jauh-jauh dari “Lho, kok asik, Pres? Bisa makan nasi kuning Hua Ind dong,” Hua Ind itu nama populer SMA-ku, SMAK Kolese Santo Yusup Malang. Nah, dulu di depan Hua Ind ada yang jualan nasi kuning di mobil warna orange, dengan lauk macam-macam. Kami menyebutnya nasi kuning Hua Ind. Terakhir bulan lalu waktu ke Malang, si ibu sudah nggak jualan dengan mobil orange lagi di depan Hua Ind, tapi sudah punya toko yang nggak jauh dari Hua Ind. Nama warungnya ya Nasi Kuning Hua Ind, dengan logo mobil orange-nya.

Dulu, hari Minggu kalo aku ikut teman-teman asrama misa di Kapel Hua Ind, pulang misa kami langsung buru-buru ke mobil orange di depan sekolah, ikut ngantri bersama banyak orang lain.

Kebetuan hari itu adikku main ke Surabaya, dan nanyain aku mau nitip apa. Spontan yang terlintas di pikiranku; nasi kuning Hua Ind. Sudah kepikiran kangen makan nasi kuning itu. Sampai di kos aku sudah happy ketika si Keke ngasih pesananku. Aku langsung makan.

Dan kalian tahu? Rasanya ternyata.... biasa saja. Tapi memang mau seluar biasa apa ya? Aku ingat-ingat lagi, rasa nasi kuning itu dari jaman SMA ya memang begitu, sih.

Tiba-tiba aku teringat dengan salah satu tulisan di buku seri Kick Andy, lupa di edisi mana. Andy F. Noya juga pernah kangen makan gado-gado depan perpus pas jaman kuliah. Gado-gado yang sudah lama dia rinduin, setelah dia jadi Andy F. Noya yang kita tahu sekarang. Dan rasanya... persis kaya yang aku alami. Dia kecewa. Padahal, penjualnya sama, taplak mejanya pun masih sama.

Sekarang terpikir, mungkin dulu kita pernah begitu menikmati sesuatu, makanan jaman SMA misalnya. Atau, kita begitu nyaman dengan... seseorang, karena kenangan-kenangan yang pernah kita punya dan kita punya ekspektasi bakal selalu bahagia.

Nyatanya, mungkin bukan nasi kuning, rasa gado-gado, atau orang yang kita kenal yang berubah, melainkan kita sendiri yang tanpa sadar berubah seiring waktu. Kita tanpa sadar terpengaruh lingkungan, taste kita berubah, lalu kita nggak bisa lagi menikmati hal yang dulu kita rindukan.

Apakah salah? Mungkin kita jadi kecewa, karena ekspektasi kita. Bukannya yang bikin kecewa itu ekspektasi? Hehehe... Aku rasa kita nggak bisa nolak ketika akhirna kita mesti berubah.


Lalu nasi kuning itu pun akhirnya berakhhir bersisa, nggak habis kumakan.

Surabaya, 16 April 2015

Sabtu, 18 Juni 2016

Face Your Fears


 
 
Kalau dibolehkan buat nge-skip waktu, pasti sejak dulu aku sering ngeskip saat-saat yang nggak aku suka. Hari ketika aku harus menghadapi ujian mata kuliah Audit – salah satu mata kuliah yang paling aku benci – hari ketika sebelumnya aku membuat kesalahan bodoh di kantor yang sukses membuat atasanku pusing dan aku terlalu ketakutan untuk menghadapi hari esok, atau... suatu hari di tiga sampai empat tahun lalu, ketika aku duduk di kelas 3 SMA.

 

Tiap tahun, siswa-siswi di sekolahku wajib mengikuti program retret yang diadakan sekolahku secara bergiliran per kelas. Retretnya diadain di Rumah Retret Sawiran. Nggak ada yang salah sih dengan program retret kelas 1 atau kelas 2. Yang 'agak bermasalah' buatku, adalah program buat kelas 3, salah satu sesinya adalah Jurit Malam. Tau Jurit Malam tu apaan? Iya, yang bikin jerit-jerit di tengah malam. Uji keberanian.

 

Bukan cuma aku yang punya syndrome tolong-Tuhan-aku-ga-papa-deh-sakit-mendekati-jadwal-retret-biar-bisa-bolos, tapi sebagian besar anak-anak remaja labil teman-teman sekelasku yang agak-agak lebay dengan gelap atau masih parno dengan hantu-hantuan. Ditambah lagi kakak-kakak kelas kami yang dengan baik hati membagi cerita pengalaman retret mereka ditambahi dengan bonus cerita-cerita mistis. Bahkan, teman dekatku akhirnya pergi ke psikiater supaya dikasih surat dokter dengan keterangan fobia akut terhadap kegelapan supaya boleh bolos retret. Dan ternyata psikiater itu adalah alumnus sekolahku yang malah dengan semangat nasehati dia buat ikut retret. 

 

Singkat cerita, akhirnya aku dan semua teman-teman sekelasku nggak ada yang berhasil 'kabur' dari program retret itu. Malam itu, sekitar jam 11 malam, sesi Jurit Malam dimulai. Kami didata dan dikasih nomor giliran satu-satu untuk menyusuri area rumah retret sendirian, tanpa penerangan sama sekali. Jangan tanya gimana rasanya aku dan teman-temanku menunggu gilliran kami di sebuah ruangan yang hanya diberi penerangan cahaya sebatang lilin, sementara sayup-sayup kami dapat mendengar suara jeritan teman-teman kami.

 

Tibalah giliranku. Aku keluar ruangan itu sendirian, memandang langit malam dan cahaya bulan yang redup di balik awan. Belum apa-apa, karena nervous luar biasa, aku salah jalur dan dengan bodohnya nyoba manjat dinding area yang misahin area retret dan hutan hingga akhirnya diteriaki salah satu pengawas dan dikasih tahu aku sudah salah jalur.

 

Aku menyusuri tepian sungai, dan akhirnya sampai di mulut lorong labirin bawah tanah. Ini yang aku paling nggak suka. Aku udah kenyang mendengar cerita para kakak kelas dan teman-teman kelas lain yang sudah lebih dulu masuk labirin ini. Aku mengehela napas, dan masuk ke dalam. Aku syok. Gelapnya benar-benar pekat. Dan rasanya sesak. Aku merasakan dinginnya dinding labirin dari telapak tanganku yang sibuk meraba-raba, nggak tahu kapan perjalanan itu akan berakhir. Nggak tahu apa aku sudah muter-muter di tempat yang sama atau nggak. Nggak tahu aku habis nabrak benda keras apa, hingga aku merayap menyusuri lorong, nyentuh benda lengket apa, dan nggak tahu aku di dalam labirin berapa lama hingga akhirnya aku menemukan cahaya redup di mulut labirin lagi. Aku keluar, menyusuri rute yang tinggal sedikit, dan bergabung bersama teman-temanku yang telah menyelesaikan perjalanan mereka dengan wajah kantuk subuh itu.

 

Pengalaman malam itu menjadi salah satu pengalaman yang masih membekas buatku, yang selalu menjadi penngingatku untuk nggak pernah kabur dari sesuatu yang aku nggak suka. Karena seandainya aku nekat kabur dari program yang harus aku ikuti itu, aku nggak akan mencoba menghadapi ketakutanku. Iya, orang-orang boleh bercerita menakut-nakuti kita akan sesuatu. Tapi kita nggak akan tahu yang sebenarnya, nggak akan tahu kenapa kita wajib menghadapi sesuatu, nggak akan tahu apa yang akan kita dapatkan atau kita lewatkan bila kita ngga berani menghadapi ketakutan kita. Kita nggak akan pernah belajar.

 

Akhirnya aku di sini. Di kota metropolitan tersibuk kedua di Indonesia. Satu tahun bekerja di sebuah bank swasta terbesar di Indonesia. Iya, masih staf. Tapi aku tersenyum. Bukan sebuah perjalanan yang mudah. Dan aku ingat, sejak malam itu, ada banyak hari yang aku alami, dengan perasaan seperti malam itu. Hari-hari dimana aku ingin kabur. Dan hari-hari dimana aku akhirnya tersenyum setelah menghadapi semuanya.

 

Hari-hari tinggal di Malang, atau Jakarta, sendirian di kos dan aku beberapa kali menangis sendiri. Hingga akhirnya ditawari penempatan kerja di Surabaya dan berangkat ke kota ini sendirian, tanpa teman-teman sekelas. Lalu belajar di unit kerja yang baru, kultur kerja yang beda, kesalahan-kesalahan yang aku ciptakan... bukan hanya sekali aku benar-benar ngomong, “Tuhan, aku capek,” sambil nangis.

 

Tapi sama seperti malam di dalam labirin itu. Pilihannya, diam di tempat dalam kegelapan sambil nangis teriak-teriak, atau berjalan terus dan menemukan akhir dari ketakutan itu. Jujur, sekarang aku biasa aja sendirian di tempat gelap. Kan pernah masuk ke bawah tanah sendirian, hehehe...

Apa Kabarmu Dalam Satu Tahun Ini?


 
 
Mei 2015, kembali aku harus merasakan migrasi ke sebuah kota yang baru. Pindah dari sebuah kota yang telah menjadi 'rumah' buatku selama tiga tahun. Pindah dari sebuah kebiasaan, ke sebuah tempat yang sama sekali nggak aku kenal. Emm... ralat. Mungkin 'agak' kenal. Sedikit. Setelah menyelesaikan pendidikan Akuntansi-ku di BCA Jakarta dan segala macam bujuk-rayu-permohonanku kepada PIC-ku supaya diberi penawaran kerja di BCA Malang atau BCA Jakarta nggak dikabulkan, aku akhirnya menerima penawaran kerja di Kantor Wilayah III BCA, di Surabaya.



Aku memang pernah beberapa kali ke Surabaya selama menempuh pendidikan SMA di Malang. Tapi, Surabaya nggak pernah menjadi tempat yang tertarik untuk kujelajahi, untuk kutinggali. Surabaya selalu menjadi tempat lewat, tanpa ada keinginan untuk kusinggahi. Bisa dihitung jari sih frekuensi aku ke kota ini. Sekedar lewat untuk ke Bandara Juanda kalau aku mau pulang ke Jayapura, waktu lomba di sebuah universitas swasta di Surabaya, atau waktu nyari gaun buat acara prom night.



Setelah hari pengumuman penawaran kerja dari BCA, aku dan semua teman-temanku punya waktu nggak sampai 1 bulan untuk mengurus dan merencakan kepindahan kami. Beruntung untuk teman-teman yang memang mendapat penawaran kerja di kota asal mereka, atau pun di Jakarta. Sedangkan aku dan sebagian teman-temanku yang dapat penawaran di kota random, sibuk mikir ini nyari kos di mana, kantor kami juga nggak tahu dimana.



Di antara teman-teman seangkatanku, hanya aku yang memilih cara ini: meng-googling tempat kosan di daerah yanga 'katanya' dekat kantor, searching lewat google map, dan dalam beberapa hari kemudian mulai menghubungi nomor yang tertera di internet, dan nekat mengirim barang-barang pindahanku ke alamat kosan yang sudah aku pilih. Tanpa tahu bentuk asli dari kosan yang akhirnya kubayar depositnya duluan. Dan hanya aku yang nggak dijemput siapa pun di Bandara ( akibat PIC-ku kelupaan menjadwalkan namaku untuk dijemput oleh orang BCA setempat ), celingak-celinguk dengan baterai HP sekarat dan nggak punya power bank, lalu akhirnya mesan taksi bandara dan ngandalin alamat yang kudapat di internet supaya si sopir taksi membawaku ke alamat kosanku.



Aku ingat hari itu. Sore itu, ketika akhirnya aku sampai di sebuah rumah besar berpagar cokelat. Lalu pemilik kosan yang menunjukkan kamarku, membantuku mengangkat barang-barangku. Aku lega. Banget. Karena paling nggak, kekhawatiran terbesarku kalau aku tertipu dengan info di internet itu nggak benar nggak kejadian. Tapi kan aku nggak punya pilihan lain. Sebenarnya aku punya beberapa kakak kelas yang aku tahu juga bekerja di BCA Kanwil III. Tapi ya... nggak enak saja minta tolong mereka setelah semasa pendidikan aku sama sekali hampir nggak pernah ngobrol dengan mereka. Siapalah aku... adik kelas dari mana. Haha...



Siang pertama di Surabaya kemudian aku habiskan dengan jalan kaki dari kosanku, nyariin kantorku dimana dengan nanya-nanyain orang di jalan, dan terpaku setelah berdiri di sebuah bangunan tinggi penuh kaca berwarna biru di samping Jalan Raya Darmo. This is my life, starts here. Iya, lebay. Tapi aku tiba-tiba teringat juga, waktu aku dan Nova-teman sekelasku semasa PPA-survey BCA Kantor Pusat di Grand Indonesia itu dimana gara-gara kami akan memasuki masa OJT kami yang pertama. Persis yang saat itu aku alami sendirian. Berdiri di depan kantor, membayangkan dalam beberapa hari ke depan aku akan bekerja di sana.



Akhirnya aku iseng melangkahan kaki menuju hall ATM, lalu disapa bapak satpam random yang nanyain aku mau ngapain. Mungkin karena saat itu aku persis anak hilang: pakai kaos merah alakadarnya yang baru kukeluarkan dari koper, dan celana pendek tanggung yang terakhir disetrika waktu aku di Jakarta. Satpam yang kemudian hampir tiap sore manggil aku, “Pulang, Ce Precillia?” Lucu ketika mengingat saat-saat pertama itu.



Benar kata sebagian besar orang. Semakin lama, kita akan merasa waktu bergerak semakin cepat, seakan berlari. Dan tiba-tiba aku sudah menerima bonusan pertamaku sebagai karyawan BCA, tiba-tiba sudah akan menerima THR lebaran yang kedua pula. Tiba-tiba, Surabaya sudah menjadi rumahku. Rumah baru. Ketika aku sudah berani duduk sendirian di sudut kota ini sendirian. Mengerjakan tugas kuliah, tugas kantor yang kusambi, menulis... atau sekedar duduk random minum kopi dan makan sepotong donat sambil membaca notesku.



Di biro tempatku bekerja sekarang, saat ini akulah staf termuda di sana. Dan beberapa karyawan yang sering berhubungan kerja denganku, memanggilku dengan panggilan “si Kecil” ketika mencariku di telepon. Karena memang aku lebih muda dibanding mereka. Dan beberapa rekan kerja pernah menanyakan kenapa aku berani untuk tinggal di sebuah kota, sendirian. Ketika aku lulus SMP dan melanjutkan SMA di Malang, di asrama. Atau ketika aku mengambil beasiswa PPA BCA dan pindah ke Jakarta. Saat itu aku pindah sendiri. Naik taksi sendiri. Dan tiba di Jakarta dengan perasaan kosong. Pun ketika akhirnya aku sampai di Surabaya dengan perasaan yang sama. Aku sendirian.



Tapi, bukankah itu seninya? Seni sebuah hidup. Untuk merasakan perubahan, untuk merasakan kejutan-kejutan yang membuat kita punya alasan untuk menyongsong hari yang baru.



Aku bertemu banyak orang di kota ini. Juga, rekan-rekan kantor yang membuatku belajar sangat banyak. Keseharian yang kini sangat kunikmati. Aku mungkin akan lebih memuja kota ini sekarang.



Beberapa kali aku ditanya, “Kalau kamu dipindahkan ke tempat lain... bagaimana?” Aku pikir jika ditanya itu sekarang, jawabanku masih sama, “Ya sudah kalau memang itu yang terbaik”. Pindah memang nggak pernah mudah, tapi untuk mengejar sesuatu yang lebih baik, kenapa takut? Aku pikir aku nggak akan pernah sampai di titik ini, sekarang, jika nggak pernah nekat.



“Mungkin saat ini kita sedang menangis. Tapi setelah masa-masa ini lewat dan kita menoleh ke belakang. Kita pasti akan tersenyum.” Aku pernah membaca tulisan ini, lebih dari sepuluh tahun yang lalu entah dimana. Dan itulah yang selalu aku pegang sekarang.


Minggu, 19 April 2015

Simple-But-Precious Thing Called "Friends"


Gimana caranya aku nyampaiin kalau aku rindu banget sama kalian?
Hari-hari kita duduk sama-sama dengerin dosen,
Hari-hari kita ujian, mentoring, kerja makalah SPM,
Latihan perform perpisahan,
Rebutan makanan oleh-oleh,
Ditagih-tagih uang kas atau uang patungan kado ulang tahun tiap awal bulan,
Hari-hari aku masih bisa ngerasa kesel dan dikeselin sama kalian.
Sering dulu kita ngeluh, kita lelah dengan hari-hari PPA
Tapi nyatanya sekarang hari-hari itu terlihat jauh lebih ringan dibanding hari-hari yang mesti kita hadapi sekarang
Setidaknya, begitu bagiku

Tahu tidak?
Aku mendadak ingat sama seseorang yang tiba-tiba malam-malam BBM-in aku tentang filosofi gaun pernikahan setelah aku ngambek gara-gara menentang ide kelas untuk bikin baju samaan
Aku mendadak ingat sama seseorang yang sering digodain dijadiin benchmark nilai terendah di kelas
Ingat juga sama seseorang yang secara spontan mengkritik secara pedas
Sama seseorang yang suka jatuh tiba-tiba, kepentok pintu, atau menjatuhkan dompet
Dengan seorang teman kos yang suka bawain oleh-oleh makanan dari planet lain
Ingat juga dengan seseorang yang suka masuk tiba-tiba ke kelas sambil ngerentangin dua tangan dan mejamin dua mata

Mendadak teringat juga dengan seorang teman penggemar novel romancce yang sama-sama sering ngidam sup kacang merah
Juga ada seseorang yang suka novel-novel karya Mitch Albom
Atau seorang yang lain, yang ada di sela-sela tangisku di kosan waktu habis diputusin mantan pacar
Juga tentang si Pahlawan Capung
Tentang seorang mentor dan ketua yang bikin aku kagum karena tetap tenang meskipun berada di tengah tekanan.... aku ingin seperti dia, di tempat kerjaku sekarang.
Aku juga nggak lupa dengan tatapan seseorang yang akhirnya nangis waktu di bandara, di hari terakhir aku ngelihat dia.. sampai sekarang

Aku juga ingat sama dia yang selalu ngingatin aku, kampung halamanku yang sebenarnya dimana
Atau, tentang dia yang selalu ngingatin aku yang nggak bisa ngontrol emosi waktu kerja kelompok dan berhadapan dia
Tentang dia yang rajin datang ke kosku malam-malam buat belajar Advance Accounting
Tentang dia yang bilang aku berani karena motong rambut panjangku jadi pendek banget
Tentang dia yang akhirnya nyerah ngajak aku BGC dan sering manggil aku “Musuh”

Aku mendadak teringat,
Tentang mereka yang nggak jarang bilang, “Precill, aku tunggu novelmu terbit di Gramedia ya,”
Mereka, yang dengan caranya masing-masing, membuat diri mereka membekas di hatiku
Mereka yang bikin mataku panas lagi malam ini.

Aku kangen.

Aku benci perpisahan.
Ketika enam tahun lalu waktu baru lulus SMP, pagi itu aku keluar rumah
Aku lihat langit, gunung, dan pemandangan di depan rumahku
Aku hirup udara pagi itu dengan sesak
Karena hari itu aku akan meninggalkan Jayapura, menempuh SMA di Malang
Sendirian

Aku benci juga pagi itu.
Ketika aku sendirian naik taksi ke Bandara Abdurahman Saleh
Dengan tiket oneway Malang-Jakarta
Meninggalkan sebuah tempat yang telah menjadi rumah bagiku
Dan segala kehidupan yang sudah terasa familiar

Lagi, aku benci pagi itu
Aku tidak sendirian
Tapi dengan kalian, yang ngantar aku ke bandara
Aku tidak nangis pagi itu
Karena aku merasa aku sudah cukup kuat mengalami perpisahan untuk kesekian kalinya
Memegag tiket oneway dari Jakarta-Surabaya
Tapi yang belum aku ceritakan,
Aku buka surat-surat kalian yang kalian tulis buatku di hari terakhir PPA kita
Waktu itu pesawat baru akan take off
Dan aku merasa sesak membaca pesan-pesan kalian
Kalian telah menjadi begitu berharga buatku

Bolehkah aku dapat satu hari lagi untuk mengulang salah satu hari bersama kalian?
Aku nggak peduli hari yang mana
Apa hari itu ada pelajaran SPM, Marketing, ujian Audit...
Aku ingin menghabiskan hari itu dan bilang... aku sayang kalian.


Surabaya, 12 April 2015