THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 28 Januari 2012

Mengenang Masa-Masa Alay


Iseng, aku baca-bacain note-noteku di Facebook. Sebagian besar note itu aku tulis pas masih SMP, masa-masa bahagia karena sering nggak ada kerjaan dan punya banyak waktu luang L. Pas baca ulang tulisan-tulisan itu, yang kemudian terpikirkan adalah; betapa alay-nya saya dulu. Tulisan ini sendiri sebenarnya merupakan sebuah ke-alay-an karena menulis tentang hal-hal alay ya? Haha..

Dulu pas SMP, aku sering nulis note FB lewat HP. Jadi kalo ada waktu luang dikit kaya lagi nunggu papa jemput di sekolah, lagi nunggu angkot penuh di terminal, pasti nulis di FB. Hal-hal kecil yang ada di sekitar saya jadi terasa punya ‘kesan’. Sekarang jadi jarang banget nulis. Waktu luang biar cuma setengah jam kerasa begitu berharga, dan saya lebih milih buat tidur karena sering tidur larut.

Jadi keingat lagi beberapa hal alay yang sering saya lakuin dulu;

1. * Ngeluh tentang kejelekan teman *waktu SMP berantem sama sesama teman cewek adalah hal yang sangat wajar karena kami adalah remaja labil yang sering nonton sinetron-sinetron picisan di TV tentang sekelompok remaja cewek yang berantem2an. Kelihatannya keren aja gitu. Saling ngelempar tatapan sinis, trus nyari ‘sekutu’, kehadiran cowok-cowok ganteng… Dan sekarang saya sadar; hal itu ga ada keren2nya sama sekali. Nampak bodoh sih iya *sampai empat halaman Ms. Word. Dan… lebih alay lagi karena saya posting tulisan itu di blog atau Facebook *udah dihapus*, atau nggak ngejadiin cerpen dengan ditambah bumbu-bumbu yang ngejadiin cerpen itu super alay.

2. * Curhat panjang-kali-lebar-kali-tinggi tentang gebetan melalui note di Facebook dan postingan di blog, berharap gebetan itu baca dan kami pacaran lalu hidup bahagia selama-lamanya… padahal bahkan cowok itu nggak punya Facebook dan belum friends-an sama saya.

3. * Nulis banyak note yang galau sekali.

4. * Foto-foto saya sangat alay pada jaman dulu.

5. * Nangis gara-gara Friendster rusak trus friends list-nya udah ribuan :)

Tapi saya bangga. Karena sejak dulu, biar pun saya alay, saya tidak pernah melakukan sebuah ke-alay-an yang menurut saya sangat brutal ; Nulis dengan huruf @L4y dan bikin nama @L4y di Facebook kaya ‘MiNhieE SiiCeWeeScOrPiOoYangIiingiinndthSetiaaahh’ *serius, ada orang di friend list-ku yang namanya gini*.


Kamu Tahu Nggak?

Kamu tahu nggak?

Waktu kamu peluk aku

Rasanya jantungku berhenti mendadak

Biarpun kata guru Biologi jantung kita nggak mungkin berhenti cuma gara-gara kita dipeluk

Tapi itu yang aku rasain

Pipiku rasanya panas

Tapi aku senang

Biarpun jantungku nggak berhenti berdetak tak karuan


Kamu tahu nggak?

Waktu kamu bilang “aku sayang kamu” sama aku

Rasanya sepanjang hari itu aku pengen senyum terus

Sebelum tidur pun aku sempat-sempatnya senyum-senyum sendiri

Bayangin wajah kamu waktu bilang sayang

Aku senang

Biarpun saat kamu ngomong seperti itu aku nggak ngomong apa-apa

Tenggorokanku rasanya tercekat


Kamu tahu nggak?

Tiap aku liat boneka pemberian kamu

Aku selalu tersenyum lalu membayangkan itu adalah kamu

Lalu aku peluk

Berharap bisa ngerasain hangat yang sama waktu kamu peluk aku

Kamu tahu nggak?

Tiap hari berganti

Aku jadi semakin sedih

Bentar lagi kita lulus

Tapi aku malah sedih

Mungkin kita nggak akan pernah ketemu lagi

Dan aku takut saat aku kembali

Kamu akan memeluk cewek lain

Atau bilang sayang pada cewek lain

Atau memberi boneka pada cewek lain

Dan aku nggak boleh marah


Kamu tahu nggak?

Rasanya aku pengen nangis

Waktu kamu bilang, “Kejar saja cita-citamu dulu. Kalo kita jodoh, kita pasti bakal ketemu”

Iya, semoga


Dia


Aku pertama kali melihat dia saat sekelas dengannya di kelas XII. Waktu itu aku dipaksa wali kelas baruku untuk mengisi bangku kosong di depannya. Akhirnya-dengan setengah menggerutu-aku pindah duduk di depannya. Waktu itu ia tidak memiliki teman sebangku. Ia sibuk mencorat-coret halaman belakang bukunya dengan gambar cewek-cewek. Aku tidak begitu memedulikan ia. Toh setelah seminggu kedepan aku pasti sudah cukup akrab dengan teman-teman sekelasku yang baru. Termasuk dengannya.


Tahun ini aku diajar oleh guru Ekonomi baru, namanya Bu Tyas. Beliau memberi kami proyek yang akan dijadikan nilai ulangan. Untuk itu kami diminta membentuk kelompok yang terdiri dari lima orang, dan kelompok itu akan sama terus sepanjang 1 semester ke depan. Dan saat ia meminta bergabung dengan kelompokku, dengan senang hati aku menerima. Sejak dulu aku tidak merasa keberatan sekelompok dengan siapa saja.


“Presy, anggota kelompok Ekonomi-mu siapa aja?” tanya Ling-Ling saat bertemu denganku di kos.

“Ce Gaby, Peewee, Brain, X *dia*,” jawabku. “Eh, X tuh gimana sih? Kamu pernah sekelas dengan dia kan di kelas XI?” tanyaku iseng.

“Haduh… nggak enak! Dia nggak bisa diajak kerjasama. Nggak mau bantu kalo tugas kelompok,” cerita Ling-Ling.


Dan aku pun merasakan kebenaran cerita Ling-Ling saat mengerjakan tugas Ekonomi. X hanya mau membantu pekerjaan yang paling ringan. Karena itu aku meminta X untuk membawa hasil prakarya kami ke sekolah esok pagi. Dia nggak mau. Jengkel sekali.


“Hiih! Jengkel sekali saya duduk di sebelah X! Udah badannya gede, nggak thau diri lagi! Tasnya kau tahu toh? Kaya tempurung kura-kura ninja! Gede kaya isi peralatan camping. Dia taruh di kursi lagi. Saya nggak dapat tempat duduk. Saya udah bilang buat turunin tasnya, dia nggak mau. Nggak tahu diri! Sudah begitu pelit sekali lagi. Giliran dia mau minjem barang orang, kau tahu? Dial ho langsung ngambil tempat pensilku trus ngubek-ngubek isinya buat nyari pulpen! Bilang baik-baik kek kalo nggak punya pulpen!” curhat Ce Gaby padaku suatu hari.


“Aku yo’ mangkel mbe de’e. Kamu inget yang waktu lomba Holy Christmass yang menghias kelas? Aku kan lagi duduk-duduk di kelas, trus dia datangin aku, dia bilang, ‘Shel, ayo bantu bikin dekor,’ yo aku ngerasa nggak enak, jadi aku bantu. Eeh, pas aku udah kerja-kerja gitu, dia malah nggak kerja. Gimana nggak mangkel?” cerita Shella saat kami sedang mengerjakan latihan soal saat BBI Matematika.


Minggu lalu Bu Prat-guru OR kelas XII-memberi kami tugas untuk membentuk kelompok dan membuat gerakan-gerakan senam aerobik untuk nilai ulangan. X tiba-tiba mendatangi kelompokku untuk meminta gabung dengan kelompok kami. Tentu saja kami tidak mau. Selain karena kelompok kami udah fix bagi-bagi tugas, kami juga kurang menyukai sikapnya. “Bukan salah kita toh kalau kita nggak suka sama dia? Dia kan begitu karena ulahnya sendiri,” komentar Shella.


X nangis. Dia cerita sama anak-anak cewek yang lain kalau kami seolah orang jahat yang nggak mau memasukkan dia ke dalam kelompok lain. Anak-anak yang lain bersikap seolah simpati pada dia, membuat kami terlihat semakin seperti orang jahat. Padahal toh mereka juga pasti nggak mau menerima X ke dalam kelompok mereka. X akhirnya masuk ke dalam kelompok kami.


Melihat X, kadang aku berpikir, apa aku jahat? Di satu sisi jelas aku jahat. Berpikiran buruk tentang X, seolah make kacamata hitam kalo ngeliat X. X bernafas aja udah salah dimataku. Tapi, apa aku-dan orang-orang yang nggak suka dengan X-salah? Kami kan nggak suka X karena sikapnya.


Dari X sebenarnya aku dapat pelajaran berharga. Kalo kita pengen diterima orang lain, kita juga harus menerima orang lain. Jangan menganggap kalo dunia itu cuma milik kita sendiri, dan semua orang mesti nurut apa yang kita mau. Kalo kita mau dihargai orang lain, kita harus lebih dulu menghargai orang lain. Jangan suka ‘merintah-merintah’, kalo ngomong ke orang tuh intonasinya nggak usah sampai tujuh oktaf. Kalo kita mau punya banyak teman, kita mesti jadi orang yang pantas untuk menjadi seorang teman.


Nggak setiap saat kita bakal dikasih kesempatan kedua. Kadang, sekali kamu nyakitin orang, kamu bakal di-blacklist sepanjang hayat kamu. Dan kamu bakal nggak disukai terus. Jadi selalu deh berlaku baik.