How Can I Love You Like This?


Kadang aku lupa. Sebenarnya tujuan akhir kita apa? Menemukan orang yang mencintai kita apa adanya, dan mencintai seseorang apa danya. Nggak ada yang lebih indah dari perasaan disayangi yang tulus. Nggak usah janji-janji manis tentang masa depan yang serba wah, cita-cita yang tinggi, dan prinsip-prinsip idealis. Cukup hidup bahagia.

Aku lupa. Aku nggak akan pernah merasa cukup, karena aku manusia. Nggak ada kata puas. Selalu ingin lebih. Tapi, bukankah kita lelah karena terus berlari tanpa henti? Berlari mengejar sesuatu yang akan terus berubah... yaitu standart bahagia. Bukankah dengan perasaan cukup kita akan merasa damai? Bukankah karena berlari kita bisa terjatuh dan terluka semakin perih?

Bukan berarti aku takut terjatuh. Karena mencintaimu pun, ada perih. Tapi sebelum hati ini berkata lelah, biarkan aku bersandar dan berhenti. Menjadikanmu rumah untukku. Tempat untuk selalu pulang dan berbagi kenangan bersama.

Lucu, gimana hal ini selalu terulang. Sesuatu selalu menjadi berlipat-lipat berharga, ketika ia jauh. Dan waktu yang menyadarkanku kalau kamu telah menjadi rumah buatku, sebelum aku menyadarinya. Terimakasih. Mengijinkanku mengenalmu. Membuka topeng, menunjukkan hatimu.

Tiap hal-hal sederhana tentangmu, membuatku semakin merindukanmu. Tentangmu, tentang kopimu, takaran air dan gelas yang biasa kamu pakai menyeduh kopi instant favoritmu, membuatku tiba-tiba merindukan wangi kopi seduhanmu yang dengan wajah datar kau sodorkan padaku ketika aku dengan cengiran lebar iseng meminta kopimu.

Mungkin, nggak ada yang percaya tentang betapa seringnya aku tersenyum, dan tertawa, karena kamu adalah sosok yang berbeda. Kamu lucu. Kamu romantis. Kamu gombal. Dan kadang seperti anak-anak. Seperti sahabat.

Gimana bisa kamu masak bubur.... dengan cabai rawit merah yang digunting ( niatnya ) berbentuk hati tapi setelah dimasak jadi nggak ngaruh? Aku diam-diam selalu menyimpan kenangan itu. Atau wajahmu yang memandangku lekat-lekat, dan berkata kalau kamu sangat senang melihatku melahap masakanmu. Hei, gimana mungkin aku nggak makan dengan bahagia, sesuatu yang kamu masak dengan perasaanmu?

Sadarkah betapa aku selalu memelukmu dengan erat? Aku suka menghirup aromamu dalam-dalam. Dan aku tidak ingin melepaskanmu. Karena bagiku, kamu adalah tempat teraman untukku.

Terimakasih terlah mengijinkanku belajar. Dan membiarkanku kembali pulang. Karena kamu benar. Setelah ini, aku nggak mau pergi kemana-mana lagi.

Karena aku mencintaimu. Dan itu cukup.


Surabaya, 11 Agustus 2016

Komentar

Postingan Populer